ain'ed

Upah Minimum 2012


Gelombang penetapan Upah Minimun telah ditetapkan di berbagai wilayah di seluruh Indonesia. Sampai dengan hari ini (red: 6/12/11) tercatat 22 Provinsi telah menetapkan Upah Minimum tahun 2012 dari 33 Provinsi yang ada di Indonesia (http://depnakertrans.go.id/news.html,772,naker).

Perlu diketahui bahwa dalam definisi hukum positif, Upah Minimum ialah upah paling rendah yang diberikan untuk pekerja/ buruh lajang yang mempunyai masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun. Adalah suatu tindak pidana bagi siapapun (orang perorangan maupun badan) yang mempekerjakan orang dengan upah di bawah Upah Minimum _pasal 185 jo. Pasal 90 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Mempekerjakan orang dalam hal ini terkait dengan definisi hubungan kerja. Hubungan kerja adalah hubungan antara pengusaha dengan pekerja/buruh berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur pekerjaan, upah, dan perintah (pasal 1 angka 15. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan).

Penetapan Upah Minimum ditetapkan berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak pada tiap-tiap wilayah (http://depnakertrans.go.id/news.html,770,naker). Pada filosofinya seseorang (lajang) tidak dapat memiliki kehidupan yang layak (baca: manusiawi) pada suatu wilayah apabila ia hanya mempunyai penghasilan di bawah Upah Minimum yang berlaku di wilayah tersebut.

Pertanyaan berikutnya: “Apakah Upah Minimum yang telah ditetapkan ini telah mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat di tiap-tiap wilayah?” inilah yang harusnya muncul di benak para pihak yang terkait dengan penetapan Upah Minimum.

serat Centhini


Serat Centhini atau dalam judul aslinya Suluk Tembangraras, adalah salah satu hasil karya sastra Jawa Kuno, dikabarkan disusun pada 1809 Masehi, atas perintah putera mahkota Kesultanan Surakarta Hadiningrat di Pulau Jawa kepada tiga pujangganya Sastranagara, Ranggasutrasna dan Sastradipura untuk menyusun suatu cerita (Jawa) kuno yang merangkum segala ilmu dan ngelmu Jawa bahkan hingga seni hidup, agar pendengarnya hanyut dalam kesadaran tak berakal. (Tembang 1). Maka pergilah tiga punjangga ini ke penjuru tanah Jawa bahkan sampai ke bagian Barat (sampai ke Mekah) untuk menghimpun segala kearifan dan penyimpangan di kalangan petapa, peramal, empu, pandai besi, dll. Kisah intinya berkisar tentang perjalanan Jayengresmi atau lebih dikenal sebagai Syekh Amongraga putra Sunan Giri yang termasyhur sebagai manusia unggul, aulia mujedub. Tokoh Jayengresmi atau Amongraga mewakili berbagai sisi perilaku dan watak manusia, yang di satu sisi penuh kekuatiran, kecemasan dan keingintahuan. Tetapi di sisi lain memiliki kekuatan, kemampuan berpikir, mencintai, menghamba pada Tuhannya, bahkan juga mencoba mencapai kesempurnaan sebagai manusia yang mengalahkan nafsunya sendiri.

Yang berkeliaran di antara tembang

Di awal buku, kita melihat keliaran keajaiban pada tembang 2 sampai tembang 5, diceritakan asal usul silsilah keluarga dan orangtua dari Jayengresmi, yaitu kakek Jayengresmi yang adalah Syekh Walilanang, seorang muslim dari Jedah yang mencoba masuk ke Kerajaan Blambangan sebagai benteng terakhir dari peradaban Majapahit di Jawa. Dengan kekuatannya, Syekh Walilanang berhasil menyembuhkan penyakit puteri raja dan mempersuntingnya, dengan harapan raja dan seluruh kerajaan bisa mengikuti ajaran agama Islam.

Menarik melihat latarbelakang penyebaran agama Islam dan keruntuhan dari kerajaan Majapahit yang menyembah dewa Siwa (Budha). Dituliskan di berbagai bagian tembang mengenai “aspek negatif” dari para penyembah Dewa Siwa dari laskar Majapahit dan bagaimana para penyebar agama Islam tersebut termasuk Syekh Walilanang dan anaknya Sunan Giri berusaha mengembalikan masyarakat “Jawa” untuk kembali ke jalan yang “benar” dengan menganut agama Islam. Perspektif Islam sangat kuat dalam tembang-tembang di Serat Centhini , terutama memang berdasarkan cerita mengenai penyebaran agama Islam dan bagaimana kaidah-kaidah agama Islam menjadi patokan dalam perumpamaan dan ajaran-ajaran yang coba dikawinkan dengan ngelmu Jawa Kuno.

Selanjutnya tercerita mengarah tentang Gajah Mada menyerang daerah kekuasaan Sunan Giri dan menghancurkan “kerajaannya” termasuk murid-muridnya. Sunan Giri yang murka mengeluarkan kekuatan gaibnya dan mengusir prajurit Gajah Mada dari tanahnya. Ketika Sunan Giri wafat dan diganti cucunya, kerajaan Majapahit balik menyerang dan berhasil menghancurkan kekuasaan Giri. Sunan Giri muda lari dan malah terlindungi oleh lebah ajaib yang menghancurkan prajurit dan kerajaan Majapahit.

Masuk ke tembang ketujuh, kita melihat bagaimana Sultan Agung yang dulu sangat berkuasa itu, yang dipercaya memiliki dua Kerajaan, di bumi (Jawa) dan di laut Selatan (penguasa Lautan bersama Ratunya Ratu Kidul). Sultan Agung sangat ingin menguasai Kekhalifan Giri (yang dikuasai keluarga Sunan Giri muda, keturunan Sunan Giri) walaupun pada saat bersamaan sudah terjadi pertalian kekeluargaan karena pernikahan. Peperangan tidak bisa dihindari lagi, sehingga jelaslah, Keluarga Sunan Giri dalam mara bahaya karena penumpasan yang dilakukan Sultan Agung. Putera sulung Sunan Giri, yaitu Jayengresmi terpisah dari kedua adiknya dalam pertempuran hebat yang melanda kerajaannya. Dikisahkan betapa Jayengresmi tidak mengerti awalnya atas keputusan perang yang dipilih ayahandanya, tetapi memilih mematuhi dan menjalan titah sebagai anak yang patuh dan setia.

Digambarkan bagaimana hubungan antara orang tua dan anaknya sebagai suatu keharusan untuk mematuhi karena berbagai keputusan penting keluarga layaknya menjadi perintah tetap atau menjadi ketetapan yang absolute, layaknya suatu kebijakan yang dibuat suatu Negara, apapun itu konsekuensinya.

Cinta yang penuh makna

Dalam pelariannya dan pencarian adik-adiknya Jayengresmi yang merubah namanya menjadi Amongraga dihadapkan pada pencarian akan dirinya sendiri. Terlibat dalam ajaran agama Islam yang taat dan cukup ketat. Perjalanan Jayengresmi dalam buku Elizabeth terbagi lagi dalam buku lainnya yaitu Ia Yang Memikul Raganya dan juga Nafsu Terakhir, yang dianggap paling eksplisit mengungkapkan relasi hubungan seksual jaman Jawa kuno. Uniknya, keseluruhan deskripsi tentang perilaku seksual di jaman dahulu sama sekali tidak memiliki tedeng aling-aling terhadap perilaku seksual yang dianggap “menyimpang” bahkan ungkapan gamblang tentang hubungan seks antar sesama jenis dan hubungan seks dengan perempuan muda di bawah umur.

Penyesuaian antara irama, macapat dan gema kata-kata menciptakan makna suluk dan keindahannya. Di dalam syair-syair cabul, kekotoran kata dihalau terbang oleh keanggunan tembangnya.Justru perpaduan antara Lumpur dan emas itulah yang membentuk watak dan sosok yang luar biasa serta khas Serat Centhini.

Singkatnya, dalam buku Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, Amongraga jatuh cinta dan bertemu dengan seorang Perempuan cantik bernama Tembangraras (atau Ken Tembangraras) putri seorang Kyai pesantren, Ki Panurta di suatu tempat bernama pondok Wanamarta. Di tempat ini Amongraga banyak bersemedi dan mendekatkan diri pada Tuhan. Setelah menikahi Tembangraras, yang selalu diikuti pembantu setianya Centhini, Amongraga memilih untuk mengenal istrinya dengan lebih baik selama empat puluh malam lebih dan menyiraminya dengan hujan kata-kata rohani bagi peningkatan diri sang istri dan juga kebersamaan yang romantis. Amongraga tidak menyentuh istrinya tetapi nurani dan akal pikirannya dengan berbagai tembang berisikan filosofi hidup yang penuh interpretasi.

Sampai di sini, buku Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan, boleh dibilang bisa disandingkan dengan The Prophet miliknya Khalil Gibran. Dari tembang 71 sampai 111, penuh dengan filosofi kehidupan yang begitu dalam dan bagaimana memandang hidup dengan berbeda. Mengapa Amongraga melakukan ini kepada sang istri?

Amongraga mengatakan di awalnya bahwa “Namun hatimu sudah dalam hatiku dan hatiku dalam hatimu. Kau dengarkah keduanya berdebar-debar gugup karena asmara? Padahal kegugupan adalah halangan sanggama.”

Bait ini dirasakan begitu menyentuh, ketika sepasang kekasih yang gelisah menanti malam pertama, malahan harus menahan diri dari luapan gairah dan seluruh reaksi kimiawi dirinya untuk merasakan tubuh satu sama lain layaknya pengantin baru. Suatu ujian atas nafsu birahi dan pengakuan terhadap penghormatan akan satu sama lain. Amongraga merasakan bahwa mencintai dan mengenali pasangan bukan hanya dari persetubuhan tetapi dari suatu hal yang lebih mendalam. Suatu filosofi kehidupan yang sebenarnya sudah kurang banyak diterapkan dalam kehidupan manusia modern. Sastra Jawa membuktikan bahwa makna cinta dulu selayaknya punya interpretasi lain, bukan hanya kebersamaan fisik dan gairah asmara.

Lanjutnya Amongraga juga mengatakan, Jika kau tidak keberatan Dinda, dan dengan rahmat Allah, mulai malam ini berdua kita akan berlayar dalam diam, menentramkan nafas satu dalam lainnya, dan agar kau jadi buritan dan aku haluan. Awalnya pelayaran ini akan terasa kejam penuh larangan sebab ancaman karam sangat besar, kita akan dibawa selama empat puluh malam mengarungi tujuh lautan, silih berganti.

Kata-kata Amongraga yang bijak tentang kebersamaan sepasang suami istri, untuk saling memahami dan saling mengerti atau sepakat dalam kata, belajar bersama melewati berbagai badai yang akan dirasakan dan juga mencoba berdamai satu sama lain selama 40 hari masa perkenalan mereka. Suatu yang romantis juga unik. Bukankah jaman sekarang kecenderungan cinta tanpa eros seperti ini sudah tidak ada lagi.

Bandingkan kata-kata cinta Amongraga dengan Khalil Gibran dalam the Prophet:

Amongraga mengatakan, dengan rahmat Allah kita berlayar dalam diam, sementara Gibran mengatakan, ketika kau mencintai janganlah berkata,”Tuhan ada dalam hatiku” tapi yang benar adalah, “Aku bertahta dalam hati Tuhan. Jangan berpikir kamu bisa mengarahkan cinta, tapi bila memang kau dianggap layak, ia akan mengarahkan layarmu”. Betapa begitu bersinggungannya kedua tembang tersebut. Keduanya menceritakan bahwa cinta tidak lepas dari rahmat dan titipan yang Maaha Kuasa atau sang Pencipta. Hanya dengan berserah diri pada Tuhan maka cinta itu bisa ada dan bisa hidup.

Di tembang lainnya, Amongraga mengajak Tembangraras mengenal dasar pilar kehidupan tentang hukum, hakekat dan ilmu pengetahuan. Katanya: Hukum adalah tanah, sedangkan Hakekat dan Ilmu adalah benih. Bila benih itu jatuh di tanah gersang, ia hanya menghasilkan semak belukar. Oleh karenanya pengetahuannya mengenai hukum haruslah kuat sebelum kamu menjelajahi jalan menuju ke Hakikat dan Ilmu.

Amongraga mengajarkan istrinya, sebagai perempuan untuk mengetahui dasar hukum tempat berpijak dan mencari hakikat dan ilmu pengetahuan. Suatu prinsip yang cukup mengagumkan, apalagi berkaitan dengan pengembangan pengetahuan dan falsafah hidup bagi perempuan sebagai pribadi mandiri.

Secara ringkas dalam tembang lainnya, Amongraga mengajarkan istrinya dengan berbagai ajaran islam, termasuk tentang sholat, nabi Muhammad SAW, juga posisi manusia sebagai hamba Allah, bagaimana dunia diwujudkan/penciptaan, empat unsur duniawi yang mengandung dzat Allah, bahkan juga tentang senggama dan berbagai hal lainnya dengan berbagai perumpamaan atau filosofi kehidupan dan nafas Islami. Hampir mirip dalam the Prophet (Khalil Gibran) dimana masing-masing segmen juga membicarakan berbagai hal terbagi dalam beberapa segmen tentang cinta, pernikahan, anak-anak, tentang kerja, tentang kebahagiaan dan kepedihan dan lainnya.

Yang menarik dari semua perakapan Amongraga dan Tembangraras dalam kelambu tempat tidur mereka selalu didengarkan oleh sang pembantu atau emban, Centhini yang dengan setia melupakan keberadaan dirinya dan selalu siap sebagai hamba duduk menunggu tidak jauh dari pelaminan. Tanpa disadari awalnya oleh Amongraga, dalam saat bersama ia telah memberikan pengetahuan kepada dua perempuan yang paling dekat dalam hidupnya pada saat bersamaan. Tentunya ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa tembang ini begitu terkenal dengan nama Serat Centhini , nama seorang hamba sahaja perempuan. Dalam buku, “Nafsu Terakhir” digambarkan Centhini memiliki kekuatan supranatural dan berhasil membela sang majikannya dari mara bahaya laki-laki hidung belang. Sebegitu dahsyatnya Centhini sehingga keberadaannya sampai akhir hayatnya tidak disadari siapapun tetapi ia telah melebur dalam pekerjaannya tanpa pamrih apapun. Centhini hilang dari muka bumi (moksa) dan tidak ditemukan siapapun. Kepercayaan ini juga masih dianut oleh ajaran Buddha dimana manusia yang bisa melampaui keduniawian bisa menghilang dan sampai ketingkat yang lebih tinggi.

Melihat ketabahan dan kesabaran Amongraga dan Tembangraras, saya melihat ada suatu pesan utama dalam Serat Centhini di buku ini, yaitu mengenai arti cinta dan pernikahan dalam kehidupan manusia. Manusia hidup dalam satu proses yang berputar atau siklus dimana mencintai dan dicintai adalah hal yang silih berganti. Ketika bayi manusia dirawat dan dicintai, ketika dewasa merawat dan mencintai tetapi juga bisa dicintai dan dirawat sebagai suatu “lingkaran penuh” kehidupan. Apa sebenarnya yang dinanti manusia selain penemuan akan cinta sejati, kehidupan, kebahagiaan dan kematian? Apakah kematian dan kebahagiaan bisa berjalan bersama? Semuanya hanya ada di dalam hati manusia masing-masing. Nilai-nilai ini telah coba ditawarkan oleh Serat Centhini.

Intisari: olinmonteiro.multiply.com

Link to fb http://www.panjebarsemangat.co.id/2011/02/07/candra/

Sanad dan Matan


Sanad atau Isnad secara bahasa artinya sandaran, maksudnya ialah jalan yang bersambung sampai kepada matan, rawi-rawi yang meriwayatkan matan hadits dan menyampaikannya. Sanad dimulai dari rawi yang awal (sebelum pencatat hadits) dan berakhir pada orang yang sebelum Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yakni para sahabat. Misalnya Bukhari meriwayatkan satu hadits, maka Bukhari dikatakan mukharrij atau mudawwin (yang mengeluarkan hadits atau yang mencatat hadits), rawi yang sebelum Bukhari dikatakan awal sanad sedangkan sahabat yang meriwayatkannya hadits itu dikatakan akhir sanad.

Matan secara bahasa artinya : kuat, kokoh, keras ; maksudnya ialah isi atau omongan atau lafazh-lafazh hadits yang terletak sesudah rawi dari sanad yang akhir.

Para ulama hadits tidak mau menerima hadits yang datang kepada mereka melainkan kalau ada sanadnya, mereka lakukan yang demikian itu sejak tersebarnya dusta atas nama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dipelopori oleh orang-orang Syi'ah. Seorang tabi'in yang bernama Muhammad bin Sirin (wafat th. 110H) ia berkata : "Mereka (yakni para ulama hadits) tadinya tidak menanyakan tentang sanad, tetapi tatkala terjadi fitnah, mereka berkata. Sebutkan kepada kami nama rawi-rawi kamu, bila dilihat yang menyampaikan Ahlus Sunnah diterima haditsnya, tapi bila yang menyampaikan ahlul bid'ah maka ditolak haditsnya".

Kemudian semenjak itu para ulama meneliti setiap sanad yang sampai kepada mereka. Bila syarat-syarat hadits shahih dan hasan terpenuhi, maka mereka menerima hadits-hadits tersebut sebagai hujjah. dan jika tidak terpenuhi syarat-syarat tersebut mereka menolaknya.

Abdullah bin Mubarak (wafat th.181 H) berkata : "Sanad ini dari agama, kalau seandainya tidak ada sanad, maka orang akan berkata sekehendaknya apa yang ia mau". [syarah Muslim Nawawi 1/87]

Para ulama hadits telah menetapkan qaidah-qaidah dan pokok-pokok pembahasan bagi tiap-tiap sanad dan matan hingga dapat diterima hadits tersebut. Ilmu yang membahas tentang masalah ini ialah ilmu Mushthalah Hadits.

Pembagian As-Sunnah Menurut Sampainya Kepada Kita

As-Sunnah yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kita dilihat dari segi sampainya dibagi menjadi dua, yaitu : Mutawaatir dan Ahad. Hadits Mutawatir ialah berita dari RasulullahShallallahu 'alaihi wa sallam yang disampaikan secara bersamaan oleh orang-orang kepercayaan dengan cara yang mustahil mereka bisa bersepakat untuk berdusta.

Hadits Mutawatir mempunyai empat syarat, yaitu:

1. Rawi-rawinya tsiqat dan mengerti terhadap apa yang dikhabarkan dan dengan kalimat pasti.

2. Sandaran penyampaian kepada sesuatu yang konkrit, seperti penyaksian atau mendengar langsung.

3. Bilangan/jumlah mereka banyak, karenanya mustahil menurut adat mereka berdusta.

4. Bilangan yang banyak ini tetap demikian dari mulai awal sanad, pertengahan sampai akhir sanad, minimal sepuluh orang rawi yang meriwayatkannya.

Hadits Ahad ialah hadits yang derajatnya tidak sampai kepada derajat Mutawaatir. Hadits Ahad terbagi menjadi tiga macam.

1. Hadits Masyhur, ialah hadits yang diriwayatkan dengan tiga sanad.

2. Hadits 'Aziz, ialah hadits yang diriwayatkan dengan dua sanad.

3. Hadits Gharib, ialah hadits yang diriwayatkan dengan satu sanad.

[Disalin dari buku Kedudukan As-Sunnah Dalam Syari'at Islam oleh Yazid Abdul Qadir Jawas, terbitan Pustaka Al-Kautsar.]

Intisari: http://almanhaj.or.id